Jika kamu orang Jawa atau pernah hidup di pulau Jawa khususnya Jawa Tengah pastinya kamu sering dengar atau paling tidak mengucapkan kata "Bajinguk/Bajirut". "Bajinguk/Bajirut" sendiri adalah deformasi dari kata bajingan yang merupakan satu dari beberapa jenis kata umpatan untuk mengungkapkan sebuah istilah yang muncul di tanah Jawa untuk menunjuk seorang pengendara gerobak sapi. Dalam salah satu novel triloginya Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk, istilah ini akan sering kita temui. Lantas kenapa istilah badjingan kemudian bergeser menjadi sebuah kata makian, padahal kata itu adalah merujuk sebuah profesi seseorang.
Bajingan adalah sebutan bagi seorang pengendara gerobak sapi atau "Cow Chariot Driver". Gerobak sapi pada zaman dulu adalah satu-satunya sarana transportasi yang diandalkan masyarakat pedesaan, namun kedatangan si bajingan ini tidak menentu, kadang bisa siang, pagi, bahkan tengah malam.
Dari situ munculah umpatan "Bajingani suwe tenan tekane" yang kurang lebih artinya "dasar bajingan lama sekali sampainya". Namun, pada masa sekarang bajingan menjadi kata umpatan yang lebih umum dan tidak merujuk pada kekesalan mengenai keterlambatan atas sesuatu. misalnya kamu sedang mengendarai sepeda motor dan tiba-tiba kendaraan di depanmu mengerem mendadak dan seketika itu juga kamu akan mengumpat "Bajinguki!" kepada pengendara di depanmu kecuali kalau di depanmu adalah truk TNI, hehehe. Pemuda Jawa biasanya mengucapkan "bajinguk" tanpa sadar atau secara reflek (pengalaman admin) entah kenapa.
Namun, jangan mengucapkan kata ini di sembarang tempat bisa-bisa anda bisa dicap buruk oleh masyarakat. contoh tempat-tempat yang tidak mengharuskan anda mengumpat: tempat ibadah, ruang guru, kantor pelayanan masyarakat. Anda boleh mengucapkan kata ini di angkringan, kamar, di tempat teman anda, namun anda harus mengerti saat yang tepat untuk mengucapkan kata ini.
sumber:
kamus slang
antara
merdeka
